Selasa, 04 Oktober 2016

SEJARAH PERADABAN ISLAM VS GERAKAN NASIONALIS DI INDONESIA

Oleh Hafidzuddin Soleh         Mahasiswa 
            “Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada diantara bangsa itu seorang guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” (Moh. Natsir, mengutip Dr. G. Nieuwwenhuis).
Mengungkap sejarah, “Siapa yang berjihad untuk menyongsong Indonesia Merdeka?” Antara tahun 1986-1987, sejumlah cendikiawan – seperti Dr. M. Amien Rais, Dr. Kuntowijoyo, Dr. Yahya Muhaimin, Dr. A. Watik Pratiknya, dan Endang S. Anshari – melakukan wawancara intensif dengan Dr. Mohammad Natsir. Berulang kali wawancara dilakukan. Sayang, hasil rekaman wawancara itu kemudian tidak terselamatkan. Dokumen yang tersisa hanya sebuah buku setebal 143 halaman, berjudul-Percakapan Antar Generasi : Pesan Perjuangan Seorang Bapak (1989).
Dr. Mohammad Natsir memang dikenal sebagai seorang pejuang dan pemikir Islam, yang pada 7 November 2008 diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah RI. Kiprah M. Natsir dalam perjuangan Islam dikenal secara luas, bukan hanya di Indoensia, tetapi juga di dunia Islam.
Dalam gagasannya M. Natsir secara khusus menyinggung potensi besar kaum Muslim untuk menapaki jalan kebangkitan sebagai sebuah peradaban:
“Kedatangan Islam sendiri (pada zaman Rasulullah) telah merubah secara drastic budaya masyarakat jazirah Arab, yang tadinya biadab, tidak dikenal dan tidak diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain; menjadi budaya yang kemudian diperhitungkan dan diakui perannya dalam sejarah peradaban manusia. Semua itu terjadi karena Islam mempunyai potensi yang membawa penganutnya untuk mencapai tingkat peradaban dan kebudayaan yang tinggi”. (A. Watik P, 1989).
Apa hubungan antara Islam dan Peradaban Melayu-Indonesia? banyak para cendikiawan memang merumuskan bahwa agama merupakan unsur pokok dalam suatu peradaban (civilization). Agama, kata mereka, adalah faktor terpenting yang menetukan karakteristik suatu peradaban.
Pakar sejarah Melayu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyebutkan bahwa dalam perjalanan sejarah peradaban Melayu, kedatangan Islam di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah kepulauan tersebut. (the coming of Islam seen from the prespective of modern times…was the most momentous event in the history of the Archipelago)
Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di Kep.Melayu-Indoensia (the Malay-Indonesian archipelago) merupakan “bahasa Muslim” kedua terbesar yang digunakan oleh lebih dari 100 juta jiwa. (S.M.N. al-Attas, 1993).
Al-Attas menolak keras teori para sarjana Barat yang menganggap kehadiran Islam di wilayah Melayu-Indonesia ini tidak meninggalkan sesuatu yang berarti bagi peradaban di wilayah ini. Ia menulis :
“Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam tiu tidak meresap ke dalam struktur mesyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur diatas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkelupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, paham demikian itu tidak benar hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka”. (S.M.N al-Attas, 1990)
            Indonesia perlu menelaah dengan cermat sejarah dan perjalanan berbagai bangsa dan peradaban dalam meraih kebangkitan. Bagaimana Islam, misalnya, mampu tampil sebagai kekuatan besar dalam tempo hanya beberapa tahun saja? Bagaimana muncul dalam bertahannya peradaban islam di Andalusia yang bertahan selama 800 tahun dan kekuatan Ottoman yang bertahan selama 600 tahun? Masihkah perlu bangsa Indonesia memelihara berbagai “mantra” yang disucikan dan diwiridkan, meskipun banyak manusia Indonesia yang tidak paham?.
            Harus diakui, selama hampir satu abad – sejak terjadinya polemic terbuka antara Soekarno dengan A. Hassan dan Natsir – telah terjadi semacam “benturan peradaban” dalam tataran konseptual. Sebagian kalangan sibuk mengkaitkan Indoneisa dengan ‘peradaban Majapahit’, dan menganggap Majapahit sebagai puncak peradaban tinggi. Islam kemudian dianggap sebagai barang asing dan seolah-olah tidak memberikan sumbangan yang berarti bagi wilayah Nusantara. Sebaliknya, Islam diposisikan sebagai musuh dari tradisi-tradisi adat.
            Usaha serius untuk menepis peran Islam dalam sejarah Melayu-Indoneisa sangat mudah dibuktikan. Pangeran Diponegoro, misalnya, sangat jelas misinya adalah untuk menegakkan Islam di Tanah Jawa. Tetapi, cerita-cerita seperti ini luput dari peradaban sejarah. Mengutip Daniel S. lev, Riyal mencatat bahwa Islam telah membentuk sebuah konsepsi social-politik supralokal sebelum Belanda dapat menyatukan Nusantara dalam sebuah administrasi pemerintahan.

            Bersambung ……

Sabtu, 01 Oktober 2016

TEKNIK MENULIS SEBAGAI MOTIVASI

·         Menurut Said Kutub “kalau tentara mempunyai satu peluru untuk membunuh satu orang, akan tetapi seorang penulis bisa memusnahkan beribu-ribu tentara dengan tulisan.
·         Untuk membentengi berbagai macam tulisan yang sangat melenceng dari ajaran Agama maka tokoh muda Islam masa kini harus membentengi dengan tulisan.
·         Untuk menulis sederhana itu perlu banyak latihan yang konsisten.

v  TEKNIK MENULIS :
a.       Keyakinan (menulis itu mudah)
b.      Praktek dan Kemauan (tanpa kemauan dan disiplin yang kuat untuk berlatih, tidak akan dapat menulis) Caranya contoh tulisan yang sudah ada!!!
c.       Motivasi (motivasi adalah alat pacu yang baik dalam menghasilkan sebuah tulisan. Motivasi yang kuat dapat menangkal hambatan menulis yang paling utama, yaitu kemalasan) Menulis itu untuk BERDAKWAH !!!

v  MENGENAL DUNIA IDE
a.       Ide adalah nyawa dalam sebuah tulisan.
b.      Ide berada dimana saja dan dapat dicari, bahkan dapat diciptakan sendiri.
c.       Untuk dapat mengungkapkan dunia ide, butuh pola berpikir (frame thingking) yang jelas.
d.      Jika sudah memiliki ide agar segera ditangkap, dan sudut pandang dalam sebuah ide harus jelas (prespektifnya), kaitan tematik, paradigm, visi, maupun pola penuangannya (paradigma).

v  MEMBENTUK POLA BERPIKIR
a.       Pola berfikir adalah sebuah sistem yang berfungsi mengubah dunia empiris menjadi dunia ide. Memindahkan sebuah fenomena ketingkatan yang lebih abstrak sehingga hadir dengan lambing-lambang yang bersifat konseptual. (dalil dalam sebuah tulisan itu tidak perlu terlalu banyak)
b.      Kemampuan mengklasifikasikan, menghubungkan, membandingkan dll.

v  MERUBAH IDE MENJADI TULISAN
a.       Uraikan dalam sebuah ide dalam sebuah kerangka tulisan.
b.      Dalam penulisan diusahakan jangan sampai ada yang tulisan yang terulang kembali.
c.       Perkaya perbendaharaan kata agar tulisan tidak sempit dan membosankan. Namun, harus belajar memakai kosa kata yang benar dan tepat dalam kalimat.
d.      Kuasai topic tulisan. Tidak menguasai topic akan menjadi hambatan dalam menulis.
e.       Kuasai teknik tulis menulis. Kuasai EYD. Dll

v  CARA BERDIALOG
a.       Jangan terbawa emosi ketika menyampaikan, perlu rileks dan elegan dalam menyampaikan dan elegan.
b.      Jangan langsung  menjustifikasi sesuatu lewat tulisan ataupun mengungkapkan langsung, tetapi biarlah nanti para audience yang menyimpulkan.

v  TEKNIK MENULIS ARTIKEL :
a.       Jenis Artikel :
1)      Eksploratif (artikel yang mengungkapkan fakta berdasarkan kajian penulis) contoh : penemuan benda antic. Penulis artikel kemudian menelusuri sejarah barang yang ditemukan itu dan menguraikannya melalui suatu tulisan artikel.
2)      Eksplanatif (artikel yang menerangkan sesuatu untuk dipahami pembaca)
3)      Deskriftif (artikel yang menggambarkan suatu permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, sehingga dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi)
b.      Langkah menulis artikel :
1)      Menetukan topic
2)      Mencari literature
3)      Memperhatikan gaya tulisan
c.       Membuat judul (sebelum muncul judul buatlah dulu tulisannya)
1)      Atraktif dan baru
2)      Tidak panjang
3)      Punya relevansi

  
v  TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH:
a.       Langkah-langkah menulis Ilmiah:
1)      Tentukan TEMA. Bila membuat, sebisa mungkin usahakan judul tema disusun dengan memakai kalimat yang sederhana namun dapat menggambarkan batas kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian.
2)      Tuntukan urutan kerengka teoritis dalam setiap bab. Dengan menyusun kerangka teoritis, anda akan lebih mudah dalam menyusun kerangka bab agar tidak melenceng dari tema yang sudah ditentukan dari awal.
3)      Menganalisis fakta atau pembahasan. Yang paling utama dalam pengerjaan ialah menghimpun fakta serta data yang didapatkan dari hasil riset/penelitian supaya menjadi data akurat.
4)      Membuat penutup. Pada akhir penulisan yang baik, usaha memberikan beberapa kesan akhir yang baik, cukup dengan menumbuhkan kesimpulan dan saran yang membangun.
b.      Pengertian dari karya ilmiah : suatu karya dalam bidang pengetahuan (science) dan teknologi yang berbentuk ilmiah. Proses perwujudannya lewat metode ilmiah baik secara fakta dan metode penulisannya.
c.       Bentuk karya ilmiah :
1)      Makalah
2)      Report/ laporan ilmiah yang dibukukan
3)      Buku Ilmiah
d.      Ciri tulisan Ilmiah :
1)      Berdasarkan fakta
2)      Bebas dari prasangka/ tidak subjektif
3)      Menggunakan prinsip-prinsip analisis (kausalitas & pemecahan masalah berdasarkan analisis yang logis)
4)      Menggunakan hipotesis (sebagai pemandu jalan pikiran menuju pencapaian tujuan)
5)      Menggunakan ukuran obyektif (bukan berdasarkan perasaan)

6)      Menggunakan teknik kuantitatif (nominal, rangking, rating)
a.       Sub Penulisan :
1)      Struktur penulisan (pendahuluan, bagian inti (pokok pembahasan), penutup dan daftar pustaka.
2)      Bagian awal sebagai pengantar ke bagian inti. Inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari baba tau subtopic.
3)      Penutup merupakan kesimpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
b.      Sikap penulis (objektif, dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif.
c.       Penggunaan Bahasa (bahasa yang tercermin dari pilihan kata/ istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
d.      Langkah-langkah penulisan:
1)      Mencari isu penting
2)      Menentukan topic
3)      Mencari sumber pendukung
4)      Mulai menulis isi (draft I)
5)      Tulisan pendahuluan yang menarik
6)      Edit sequence / URUTAN
7)      Perhatikan flow of idea