Oleh Hafidzuddin Soleh Mahasiswa
“Suatu bangsa
tidak akan maju, sebelum ada diantara bangsa itu seorang guru yang suka
berkorban untuk keperluan bangsanya.” (Moh. Natsir, mengutip Dr. G.
Nieuwwenhuis).
Mengungkap sejarah, “Siapa yang berjihad untuk menyongsong
Indonesia Merdeka?” Antara tahun 1986-1987, sejumlah cendikiawan – seperti Dr.
M. Amien Rais, Dr. Kuntowijoyo, Dr. Yahya Muhaimin, Dr. A. Watik Pratiknya, dan
Endang S. Anshari – melakukan wawancara intensif dengan Dr. Mohammad Natsir.
Berulang kali wawancara dilakukan. Sayang, hasil rekaman wawancara itu kemudian
tidak terselamatkan. Dokumen yang tersisa hanya sebuah buku setebal 143
halaman, berjudul-Percakapan Antar Generasi : Pesan Perjuangan
Seorang Bapak (1989).
Dr. Mohammad Natsir memang dikenal sebagai seorang pejuang dan
pemikir Islam, yang pada 7 November 2008 diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional
oleh pemerintah RI. Kiprah M. Natsir dalam perjuangan Islam dikenal secara
luas, bukan hanya di Indoensia, tetapi juga di dunia Islam.
Dalam gagasannya M. Natsir secara khusus menyinggung potensi besar
kaum Muslim untuk menapaki jalan kebangkitan sebagai sebuah peradaban:
“Kedatangan Islam sendiri (pada
zaman Rasulullah) telah merubah secara drastic budaya masyarakat jazirah Arab,
yang tadinya biadab, tidak dikenal dan tidak diperhitungkan oleh bangsa-bangsa
lain; menjadi budaya yang kemudian diperhitungkan dan diakui perannya dalam
sejarah peradaban manusia. Semua itu terjadi karena Islam mempunyai potensi
yang membawa penganutnya untuk mencapai tingkat peradaban dan kebudayaan yang
tinggi”. (A. Watik P, 1989).
Apa hubungan antara Islam dan Peradaban Melayu-Indonesia? banyak
para cendikiawan memang merumuskan bahwa agama merupakan unsur pokok dalam
suatu peradaban (civilization). Agama, kata mereka, adalah faktor
terpenting yang menetukan karakteristik suatu peradaban.
Pakar sejarah Melayu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,
menyebutkan bahwa dalam perjalanan sejarah peradaban Melayu, kedatangan Islam
di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam
sejarah kepulauan tersebut. (the coming of Islam seen from the prespective
of modern times…was the most momentous event in the history of the Archipelago)
Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di Kep.Melayu-Indoensia (the
Malay-Indonesian archipelago) merupakan “bahasa Muslim” kedua terbesar yang
digunakan oleh lebih dari 100 juta jiwa. (S.M.N. al-Attas, 1993).
Al-Attas menolak keras teori para sarjana Barat yang menganggap
kehadiran Islam di wilayah Melayu-Indonesia ini tidak meninggalkan sesuatu yang
berarti bagi peradaban di wilayah ini. Ia menulis :
“Banyak sarjana yang telah
memperkatakan bahwa Islam tiu tidak meresap ke dalam struktur mesyarakat
Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur
diatas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkelupas menonjolkan
kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, paham demikian
itu tidak benar hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya
merupakan angan-angan belaka”. (S.M.N al-Attas, 1990)
Indonesia perlu
menelaah dengan cermat sejarah dan perjalanan berbagai bangsa dan peradaban
dalam meraih kebangkitan. Bagaimana Islam, misalnya, mampu tampil sebagai
kekuatan besar dalam tempo hanya beberapa tahun saja? Bagaimana muncul dalam
bertahannya peradaban islam di Andalusia yang bertahan selama 800 tahun dan
kekuatan Ottoman yang bertahan selama 600 tahun? Masihkah perlu bangsa
Indonesia memelihara berbagai “mantra” yang disucikan dan diwiridkan, meskipun
banyak manusia Indonesia yang tidak paham?.
Harus diakui,
selama hampir satu abad – sejak terjadinya polemic terbuka antara Soekarno
dengan A. Hassan dan Natsir – telah terjadi semacam “benturan peradaban” dalam
tataran konseptual. Sebagian kalangan sibuk mengkaitkan Indoneisa dengan
‘peradaban Majapahit’, dan menganggap Majapahit sebagai puncak peradaban
tinggi. Islam kemudian dianggap sebagai barang asing dan seolah-olah tidak
memberikan sumbangan yang berarti bagi wilayah Nusantara. Sebaliknya, Islam
diposisikan sebagai musuh dari tradisi-tradisi adat.
Usaha serius untuk
menepis peran Islam dalam sejarah Melayu-Indoneisa sangat mudah dibuktikan.
Pangeran Diponegoro, misalnya, sangat jelas misinya adalah untuk menegakkan
Islam di Tanah Jawa. Tetapi, cerita-cerita seperti ini luput dari peradaban
sejarah. Mengutip Daniel S. lev, Riyal mencatat bahwa Islam telah membentuk
sebuah konsepsi social-politik supralokal sebelum Belanda dapat menyatukan
Nusantara dalam sebuah administrasi pemerintahan.
Bersambung ……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar